Konservasi Ikan Paus, Perburuan “ala” Tradisional Tetap Dimungkinkan

Juni 26, 2009 at 3:51 pm Tinggalkan komentar

Petugas penyelamat merawat ikan paus yang terdampar di Pantai Hamelin, Australia, awal pekan ini. Sekitar 80 ekor ikan paus dan lumba-lumba terdampar di kawasan itu. Ikan tersebut akan dirawat terlebih dahulu sebelum dilepaskan ke laut kembali.

Program konservasi ikan paus di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak bermaksud melarang perburuan tradisional masyarakat, tetapi justru menjamin perlindungan terhadap hak-hak masyarakat Lamalera untuk berburu mamalia laut itu secara berkelanjutan. Konservasi ini mendukung dilindunginya hak-hak tradisional masyarakat Lamalera untuk memanfaatkan sumber daya laut di wilayah mereka.

Pernyataan itu dikemukakan Direktur APEX Environmental Benjamin Kahn dalam diskusi terbatas bertema Pandangan Keilmuan Perikanan Tradisional Paus di Kupang, NTT, seperti disampaikan Ketua Tim PP KKL Laut Sawu Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut (Tim PP-KKL) Jotham S R Ninef, baru-baru ini.

Benyamin berpendapat, perburuan terhadap satwa yang dilindungi juga diizinkan di beberapa negara, dan pemerintah ikut mendukung kearifan tradisional masyarakat, seperti Suku Aborigin dan Suku Inuit (Eskimo) di kawasan Lingkar Kutub Utara.

Kepada orang Aborigin, kata Benyamin, Pemerintah Australia mengizinkan perburuan penyu hijau dan duyung, sedangkan Pemerintah Kanada memberikan hak berburu ikan paus dan singa laut bagi orang Inuit.

“Syaratnya adalah, mereka tetap melakukan kegiatan perburuan itu secara tradisional,” ujarnya. Benyamin mengingatkan, ikan paus di Lamalera dan mamalia laut di kawasan timur Indonesia lainnya, mendapat ancaman yang serius dari sampah dan limbah yang dibuang oleh aktivitas pelayaran yang melintasi perairan mereka, operasi penambangan minyak lepas pantai, serta limbah tailing yang dibuang pertambangan ke laut. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena sampah plastik adalah pembunuh laten bagi ikan paus.

Karena itu, penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Laut Sawu, menurut Benyamin, justru menjadi penting, karena dapat melindungi seluruh kawasan dari ancaman-ancaman serius.

Sebelumnya, Forum Masyarakat Peduli Lefo Lamalera dan Tradisi Ola Nue menolak rencana konservasi Laut Sawu khususnya Zona II (Solor, Lembata, Alor) yang disusun Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang didukung kalangan LSM.

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Lefo Lamalera Bernard Krova meminta agar jika pemerintah memaksakan rencana konservasi Laut Sawu tersebut, sebaiknya dalam praktek di lapangan dilandasi dengan semangat agar konservasi memperhatikan aspek perlindungan terhadap tradisi Lefa, yaitu penangkapan ikan paus.
Sumber: Suara Pembaruan, 27 Maret 2009 (AP/Steve Mitchell)

Entry filed under: artikel, berita. Tags: , , , .

Perlindungan Ekosistem Terumbu Karang di pulau Weh/Sabang Selamatkan Terumbu Karang Sekarang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Marhaban Yaa Ramadhan

bener-1

Kalender Masehi

Juni 2009
S S R K J S M
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Photo qWuh..

Arsip

Pengunjung

  • 15,537 Pengunjung

Komentar Terbaru

abdul hakim Abidin di Biografi Bang Iwan Fals
dheva di Komunitas Jepang di Bogor
zoan di Biografi Bang Iwan Fals
leni di Biografi Bang Iwan Fals
muhamad irfan di Biografi Bang Iwan Fals

RSS Bogor EduCARE

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: