Biografi Bang Iwan Fals

Agustus 9, 2009 at 1:57 pm 16 komentar

cdi015

SEBAGAI penyanyi dan pencipta lagu, Iwan Fals punya tempat istimewa dalam peta musik Indonesia. Generasi akhir 1970-an hingga sekarang yang merasa terwakili oleh lagu-lagunya, menempatkan Iwan Fals sebagai idola. Lagu-lagu Iwan memang khas, kadang bernada keras menyengat, kadang lembut menyentuh, tak jarang pula ia bertutur dengan bercanda. Lagu-lagu Iwan semakin memiliki kekhasan karena kata-kata yang ia gunakan tidak klise.
Hal lain yang bisa kita baca, banyak memang musisi yang mampu membuat melodi yang tak kalah enaknya. Tapi soal membuat lirik, Iwan memang sulit tergantikan, atau bahkan tak ada duanya. Tak hanya pada lagu-lagu kritik sosialnya, tetapi juga pada lagu-lagu cinta. Meskipun bertema cinta, tapi di dalamnya tetap tersimpan visi dan pesan-peran kehidupan. Ini yang sangat jarang kita temukan pada lagu karya musisi lain.

Tentu yang membuat sosok Iwan begitu besar, bukan sekedar karena kemampuannya meracik lirik yang luar biasa, tapi yang tak kalah penting adalah lirik-lirik itu menjadi bagian integral dari visi dan perjalanan hidup Iwan sehari-hari. Lagunya adalah sikap hidupnya, dan itulah yang dia kerjakan. Iwan tahu benar perbedaan makna berindustri dengan berkesenian atau berkebudayaan.

Dengan segala karya dan karsa yang sudah ia hasilkan, wajar kalau Iwan Fals menjadi penyanyi dan musisi besar negeri ini. Iwan adalah legenda. Tapi sungguh pun banyak kalangan yang mengidolakannya, Iwan tetaplah bersahaja, tetap rendah hati, dan apa adanya.

Di bawah ini adalah beberapa tulisan biografi Iwan Fals. Dalam perjalanan hidupnya yang tak selalu mulus dan penuh liku, kita belajar banyak sosok Iwan Fals untuk menjadi manusia yang semakin baik, manusia selalu yang belajar dari perjalanan hidup masa lalu, manusia yang berguna, manusia yang tak pernah lelah melawan ketidakadilan dan menemukan kebenaran.

Sekilas Iwan Fals
Iwan Fals yang bernama asli Virgiawan Listanto adalah seorang legenda hidup Indonesia.

Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.

Entry filed under: artikel. Tags: , , , .

Nieh Manfaat Air Putih… Waaaawwwww… Ikan Buassssss

16 Komentar Add your own

  • 1. aries setiawan  |  September 2, 2009 pukul 8:41 am

    segala sesuatu yg diperoleh dg keringat dan perjuangan tentunya akan selalu dikenang… “KARYA” walaupun beliau nantinya tlah tiada…. tetap dikenang sepanjang masa…… hidup bang iwan

    Balas
  • 2. MARTA  |  September 7, 2009 pukul 2:47 pm

    aq salah satu fans iwan fals

    Balas
  • 3. ubay  |  September 9, 2009 pukul 6:21 pm

    sunggh perjuangan moe wat q terhru……….

    Balas
  • 4. rezha adipermana  |  September 15, 2009 pukul 6:00 pm

    .berjuang trus bang iwan
    .berdemokrasilah demi bangsa ini dalam nyanyian mu

    .suara hati knpa perga
    .suara hati jngan pergi lagi

    Balas
  • 5. Ade Chandra  |  Oktober 5, 2009 pukul 3:38 pm

    Q sngt trhru.. Ats sgla prjuangn Bang Iwan.. Maju trz pntng Mundur… Oi.Oi.oi..

    Balas
  • 6. adjie  |  Oktober 13, 2009 pukul 1:26 am

    No comenT

    Balas
  • 7. adjie  |  Oktober 13, 2009 pukul 1:27 am

    bang iwan ganteng bgtzzzzzzzzz
    By;adjie

    Balas
  • 8. Alie Deparlis  |  Oktober 16, 2009 pukul 4:36 pm

    Hati nurani tak pernah berbohong, terus berjuang bang iwan …

    Balas
  • 9. nina  |  Oktober 31, 2009 pukul 1:18 am

    lagunya keren banget…. aku suka
    bahkan ada tmanku yg terinspirasi oleh mu…

    Balas
  • 10. yuli  |  November 14, 2009 pukul 3:42 am

    MERDEKA!

    Balas
  • 11. noval aremania  |  November 22, 2009 pukul 3:51 am

    ayo semangat bang iwan, keluarkan album lagi

    Balas
  • 12. chaidir nyonri  |  Desember 8, 2009 pukul 12:52 pm

    Dalam sebuah karya dan karsamu,wajar bila dirimu tetap idola bagi pemuda pemudi Indonesia…kharismamu,kesederhanaanmu panutan kami para fanatikmu…
    Hormatku chaidir……..

    Balas
  • 13. muhamad irfan  |  Desember 12, 2009 pukul 1:23 pm

    bang hebat juga ya semangat bang ,,,,,,,,,,,,,
    w fans abang kan kedukung terus
    berjuang demi bangsa ini……………………………
    wakil rakyat seharusnya merakyat ………..
    jangan tidur waktu sidang soal rakyat,,,,,,,,,,,,,,

    Balas
  • 14. leni  |  Desember 15, 2009 pukul 7:07 am

    q salah satu fans beratmu Bang..kpn konser di Purworejo???

    Balas
  • 15. zoan  |  Desember 25, 2009 pukul 9:55 am

    qqq cinta mti pdmu bang

    Balas
  • 16. abdul hakim Abidin  |  Januari 17, 2010 pukul 8:30 am

    Bang iwan ….izinkan aku menyampaikan sejuta kata untuk menyampaikan isi hatiku atas apreasi karya-karyamu terutama….dalam syairmu “Ibu”aku tenggelam dalam lantunan itu dan seakan aku terinspirsai lagu itu sehingga satu sajak tercipta :
    “BUNDA” (Sang Wanita tangguh)

    Jiwaku terus bergetar melantunkan doa untukmu Bunda
    “Allahummaghfirli Waliwaalidayya Warhamhuma kamaa rabbayaani shogiiro”

    Malam yang membuat beku segalanya
    Tak ada artinya di matamu

    Desahan nafas saat Bunda terjaga
    Munajat kehadirat-Nya
    Membuat aku malu pada siapapun
    yang melihat aku masih terlelap

    Sementara Bunda tersungkur
    Bersujud di hadapan-Nya
    Tak gentar oleh keadaaan
    Untuk sedikit melepas beban

    Bunda……..
    sungguh engkau adalah sang wanita tangguh
    Aku tak tahu dengan apa aku harus membalas segala kebaikan Bunda
    Rasanya tenggorokkanku kering tak ingin berkata
    Hanya air matalah yang selalu terkucur
    seakan ingin menjelaskan segalanya

    Sang siang tunduk dihadapanmu
    Seakan dia malu untuk menggantikan malam
    karena telah melelahkanmu
    Sementara engkau tak pernah peduli
    Engkau selalu memberikan yang terbaik
    Kepada siapapun yang dekat denganmu

    Bunda…….
    Aku tahu hatimu menangis
    Tapi engkau sembunyikan dibalik senyuman yang menyejukkan

    Bunda…….
    Sungguh engkau adalah sang wanita tangguh
    Tak kan pernah salah bahwa surga berada ditelapak kaki Bunda.

    By: abdul hakim abidin
    Senin, 19-10-09 pukul 12.34 wib.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Marhaban Yaa Ramadhan

bener-1

Kalender Masehi

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Photo qWuh..

Arsip

Pengunjung

  • 15,537 Pengunjung

Komentar Terbaru

abdul hakim Abidin di Biografi Bang Iwan Fals
dheva di Komunitas Jepang di Bogor
zoan di Biografi Bang Iwan Fals
leni di Biografi Bang Iwan Fals
muhamad irfan di Biografi Bang Iwan Fals

RSS Bogor EduCARE

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: